Wayang: Peradaban Jawa yang Adiluhung

Mendengar kata Jawa ibarat masuk peradaban besar, tercakup di dalamnya masyarakat, bahasa, “tembang”, makanan, pakaian, etika, tarian, kalender, keris, dan produk budaya lainnya. Sering kali disebut “Jawa adalah Indonesia” atau sebaliknya untuk menggambarkan kekuatan dan potensi besar yang dimiliki atau proporsi jumlah penduduknya yang merata hadir pada setiap sudut di Nusantara.
Bahasa Jawa mempunyai kekhasan pada stratanya, “ngoko, krama, dan krama inggil,” (yang masing-masing masih bertingkat lagi), sekaligus memperlihatkan status sosial penggunanya. Bahasa Jawa tingkat tinggi secara umum sering didengar saat upacara perkawinan, enak dinikmati tanpa harus bisa memahami. Dialek Jawa Banyumasan melengkapi bumbu penyedap rasa berbahasa model Yogya-Solo dan ratusan dialek lainnya.
Kosakata bahasa Jawa sangat kaya dan detail untuk menggambarkan suasana alam atau “jagat cilik” manusia. Ungkapan “kemricik, kemrucuk, kemracak; langsar, longsor, lingsir, lungsur, lengser” sekadar contoh beda vokal punya makna unik. Untuk menyatakan sakit perut sejumlah istilah yang digunakan: mules, melilit, murus, mencret, dan khusus perempuan tambah melimpah. Perkecualian, kosakata dalam perkembangan ilmu dan teknologi tumbuh lambat, atau memang ada padanan kata yang memadai. Pakar bahasa dahulu masih kreatif mencari sinonim kereta api (sepur), pesawat (motor mabur), tetapi membanjirnya temuan teknologi baru sangat sulit untuk mencari kata Jawa yang luwes.
Nama makanan (penganan; kudapan) Jawa sangat variatif, satu bahan makanan (misalnya singkong) dapat dibuat menjadi beragam jenis makanan dengan nama serta rasa yang berbeda. Produk gula pun dapat dibuat dari jenis tebu atau aren, secara khusus ada nama “gula jawa” (j huruf kecil) yang paling banyak manfaatnya untuk keperluan dapur sehat. Keistimewaannya, kuliner Jawa dengan kemasan modern masih layak bersanding dengan jenis masakan lainnya di acara resmi.
Hampir dipastikan tidak semua orang Jawa dapat menyanyikan “tembang” (nyanyian) Jawa, atau mungkin hanya hafal tembang anak-anak. Untuk nama pasaran dalam sepekan sudah jarang dipakai dalam bahasa harian, kecuali orang kampung atau jadwal khotib Jumat. Penanggalan Jawa bersanding dengan kalender nasional dan hijriah masih lazim dilihat saat akan menentukan bulan baik untuk perkawinan.
Lebih spesifik lagi, hanya sedikit jumlahnya penduduk yang bertahan dengan khas pakaian Jawa dalam kesehariannya. Budaya kraton masih setia dengan pakaian adat Jawa, sedangkan masyarakat umum hanya melihat saat upacara “mantenan” atau karnaval. Untunglah upacara hari lahir Kartini memberi peluang para siswi mengenakan baju kebaya nasional, sebuah edukasi tahunan untuk menghargai legasi budaya nenek moyang. Seperti halnya tarian Jawa yang ratusan jenisnya sangat elok dan memikat hati, bisa jadi tidak semua siswa mampu menampilkannya.
Seseorang dari suku lain disebut “njawani” jika mempunyai perilaku sopan mirip etika Jawa. Penelitian Franz Magnis menemukan “hormat dan rukun” sebagai dua keunggulan etika Jawa yang mempunyai sifat lentur dan dinamis untuk keharmonisan pergaulan dan komunikasi politik. Sejarah pembangkangan (dissident) muncul pada era kerajaan dan kolonialisme Belanda, tetapi perjalanan panjang kemerdekaan agak jarang ditemukan komunitas Jawa melestarikan konflik SARA terbuka.
Keluhan “Wong Jowo ilang jawane” (orang Jawa hilang kejawaannya) bisa terjadi secara bertahap ketidakmampuan masyarakat menggunakan bahasa Jawa dengan benar, tetapi juga tidak luwes dalam hal “nembang”, berpakaian, menari, lupa dengan etika, “penanggalan” (kalender), dan produk budaya lainnya. Satu hal yang masih kuat dipertahankan adalah kelahapan masyarakat untuk menikmati makanan khas asli Jawa.
Para budayawan pantas pula “menangis sedih” jika melihat banyak orang Jawa tidak lagi peduli dengan tradisi nenek moyang, termasuk terhadap bahasanya. Ini bukan monopoli pergerusan budaya Jawa, tetapi diakui oleh semua bahasa lokal di dunia. Guru bidang keilmuan juga layak prihatin dengan keterbatasan media publikasi untuk mewartakan dengan bahasa Jawa. Repotnya lagi, para guru kurang gairah dengan bahasa yang diajarkan, sehingga anak didik tidak percaya diri untuk menggunakannya dalam bentuk komunikasi tulisan.
Memahami Jawa tidak cukup dari sisi bahasa, tetapi banyak aspek lain yang kini diakui menjadi khazanah bangsa Indonesia. Pagelaran wayang kulit merupakan produk budaya Jawa yang “adiluhung” (nilai seni yang tinggi), memadukan berbagai cabang ilmu dan rangkaian cerita setiap episode mengandung filsafat moral, juga “unggah-ungguh” (etika praktis) sangat tinggi. Para dalang muda sangat berani menyisipkan kritik sosial sebagai menu suplemen untuk membangkitkan gairah penonton. Ketika masyarakat merasa takut bersuasa karena khawatir diintimidasi, maka wayang menjadi saluran yang memberi ruang grundelan, kontra dengan kebijakan pemerintah.
Wayang kulit dalam kebudayaan masyarakat Jawa merupakan bentuk kesenian yang relatif panjang durasi pertunjukannya. Pagelaran wayang kulit dekade 70-an berlangsung mulai pukul 08.00 malam sampai 05.00 pagi. Penikmat wayang kelas bocah sudah datang lebih awal sebelum pertunjukan dimulai, mereka lebih suka memilih posisi di depan kelir. Para pinisepuh cenderung hadir terlambat, lebih rileks nonton dengan duduk lesehan di belakang niyaga sambil mengintip pesindennya.
Nasihat klasik, “wayang bukan hanya sebagai tontonan, tetapi memuat tuntunan.” Orang tua menonton wayang ibarat mematut-matut mengaca diri, mencocokkan perilaku dirinya dengan wejangan si dalang. Pesona tontonan wayang kulit bagi pemirsa tidak merasa tersinggung oleh kritik sang dalang, sebaliknya dapat mengevaluasi diri tabiat jelek yang dimilikinya. Analisis Sri Mulyono, “wayang dalam satu kotak merupakan pengejawantahan jiwa manusia. Watak yang berbeda-beda bukannya hanya digambar dalam satu figur satu wayang saja, akan tetapi tidak jarang dalam satu figur wayang berpadu berbagai watak manusia.”1)
Laki-laki Jawa yang lahir era 90-an nyaris jarang melihat tontonan wayang kulit semalam suntuk, mereka tidak paham nama-nama tokoh wayang, dan memang bukan kebutuhan pokok mereka untuk mengenal wayang. Makin menguatnya kehidupan pragmatis, secara perlahan kesenian wayang kulit makin berkurang peminatnya. Para aktivis budaya era reformasi mencoba mengemas ulang pagelaran wayang dengan sentuhan teknologi agar adaptif dengan selera pemirsa: pakeliran full lighting, asesoris panggung, sinden minimal lima perempuan sintal nan cantik, plus pelawak. Pertunjukan wayang kulit model lama sudah obsolete (usang) harus dimodifikasi, termasuk mengurangi hal yang esensial (?) demi pelestarian wayang.
Generasi milenial lebih fokus menonton wayang kulit pada unsur hiburannya. Sekadar contoh, dalang kondang era pascamodern, Ki Enthus (Tegal) disukai pemirsa karena selalu menyisipkan dakwah yang sejuk, menghadirkan banyak pesinden ayu dan lawakannya lucu cenderung porno. Durasi pertunjukan wayang disesuaikan dengan kebutuhan penonton: paket lengkap sembilan jam berubah menjadi paket hemat enam jam, tiga jam, sampai dua jam, bergantung pemesan. Pantauan Matthew Isaac Cohen, “wayang terus dikembangkan ke dalam bentuk-bentuk baru dan dibingkai dalam cara-cara baru pula. Ia terus diperbarui dan mencapai audiens-audiens baru, menghasilkan komunitas-komunitas baru dalam prosesnya.”2)
Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah (NA) mengangkat tokoh pewayangan sebagai tema besar “Srikandi Penjaga Peradaban” menyiratkan simbolisme prajurit perempuan yang tidak gentar maju dalam medan peperangan. Penyelenggara layak diapresiasi atas inisiatif mengangkat budaya Jawa dalam bentuk pagelaran wayang kulit untuk konsumsi masyarakat era modern. Pandangan selintas serba kontras di era sekarang yang cenderung berpikir praktis, instan, efisien, dan longgar tata krama dihadapkan dengan pagelaran wayang kulit yang berdurasi panjang, musik lamban, tata susila yang ketat, berpikir filosofis, dan penuh wejangan.
Perempuan Jawa (apalagi muslimah) era 80-an amat jarang terlihat sebagai penonton wayang sampai tuntas, seperti halnya permainan sepak bola dan catur. Logika yang dibangun sangat praktis dan sederhana: banyak pekerjaan rumah lebih menuntut perhatiannya ketimbang memelototi wayang, kulit (bola) atau kayu (catur). Perempuan Jawa yang tidak hobi menonton wayang, kurang akrab tembang Jawa, kecuali lagu dolanan anak-anak. Jika perempuan dipaksa menonton wayang kulit sebenarnya mereka tidak paham alur ceritanya, sekadar menemani suami, dan lazimnya sebelum pukul 12.00 malam sudah jatuh tertidur. “Pagelaran wayang kulit belum selesai, saya pulang pukul 21.30.” penuturan aktivis NA domisili Bantul (Sabtu, 16/5/2026).
Hal apakah yang menjadi fokus perhatian para pemirsa saat menonton dalang perempuan Nyai Rizki Rahma Nurwahyuni? Para aktivis ‘Aisyiyah di seluruh Indonesia yang kini telah memasuki usia sepuh tetap akan berlanjut dengan kehadiran kader NA untuk posisi strategis masa yang akan datang. Potret utuh tokoh wayang Srikandi3) dengan plus-minus watak priomordial yang dimilikinya dapat dijadikan iktibar (contoh, pengajaran) bagi anggota NA tentang sisi-sisi keunggulan, sekaligus stereotipe (negatif) yang melekat pada makhluk berjenis kelamin perempuan menghadapi problem konkret di dunia modern.
Selamat Milad ke-95 Nasyiatul Aisyiyah
Penulis :
 Prof. H. Dr. Imam Sutomo, M.Ag. 
Editor : Huda

Catatan Kaki:
1) Sri Mulyono. (1982). Wayang dan Filsafat Nusantara. Jakarta: Gunung Agung, hlm.12.
2) Matthew Isaac Cohen. (2014). Wayang Kulit Tradisional dan Pasca-Tradisional di Jawa Masa Kini. Terj. Leilani Hermiasih. Jurnal Kajian Seni, Vol.1 No.1, hlm. 9.
3) Lihat Solichin, Suyanto, dan Sumari. (2017). Ensiklopedi Wayang Indonesia. Bandung: Mitra Sarana Edukasi, hlm. 246-247.