
Salah satu ayat yang sangat penting untuk membangun kesadaran diri dan organisasi adalah firman Allah SWT dalam Surah Al-Syams ayat 9–10:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Qad aflaḥa man zakkāhā, wa qad khāba man dassāhā.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Al-Syams: 9–10)
Profil Surah Al-Syams
Surah Asy-Syams (الشمس) memiliki beberapa penanda penting:
- Nomor Surah: Surat ke-91 dalam Al-Qur’an (terdiri dari 15 ayat).
- Golongan Surah: Makkiyah, diturunkan di Kota Mekah sebelum Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah.
- Urutan Nuzul: Surat ke-26 dari segi urutan turunnya wahyu, yakni setelah Surah Al-Qadr dan sebelum Surah Al-Buruj.
Asbabun Nuzul & Pesan Utama
Secara umum, tujuan utama diturunkannya Surah Asy-Syams adalah anjuran untuk melakukan berbagai kebaikan dan menghindari segala bentuk keburukan. Hal ini ditekankan melalui serangkaian sumpah yang menyebut fenomena alam (matahari, bulan, siang, dan malam) agar manusia memperhatikan keteraturan kosmis tersebut.
Surah ini mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati diperoleh dengan menyucikan dan mengembangkan jiwa melalui ketakwaan, serta menghindarkan diri dari kedurhakaan seperti yang dilakukan oleh Kaum Tsamud yang dibinasakan akibat menolak kebenaran Nabi Saleh AS.
Potensi Jiwa Manusia: Fujur dan Takwa
Ayat 9–10 merupakan puncak dari rangkaian sumpah Allah SWT sebelumnya:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Wa nafsin wa mā sawwāhā, fa-alhamahā fujūrahā wa taqwāhā.
“Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan (fujur) dan ketakwaannya.”
(QS. Al-Syams: 7–8)
Manusia dianugerahi dua potensi: fujur (durhaka/dosa) dan takwa (kepatuhan/keimanan). Keberuntungan sejati manusia tidak ditentukan oleh banyaknya harta, tinggi jabatan, atau megahnya gedung, melainkan oleh kemampuannya dalam menyucikan jiwa.
1. Makna “Man Zakkāhā”
Kata zakkā (زَكَّى) berasal dari akar kata zakā–yuzakkī–tazkiyah, yang berarti menyucikan, membersihkan, menumbuhkan, dan mengembangkan.
Dalam tafsir, man zakkāhā merujuk pada:
- Orang yang membersihkan jiwanya dari dosa, syirik, dan sifat tercela.
- Orang yang menumbuhkan jiwanya dengan iman, ibadah, dan akhlak mulia.
- Orang yang menjaga hati dari riya’, hasad, takabur, ujub, dan cinta dunia berlebihan.
Pandangan Para Mufasir:
- Ibnu Katsir & Al-Hasan Al-Bashri: Beruntunglah orang yang membersihkan jiwanya dari maksiat lalu menghiasinya dengan ketaatan.
- The Study Quran (Seyyed Hossein Nasr dkk.): Rangkaian sumpah menunjukkan keteraturan kosmis yang menjadi cermin keteraturan jiwa. Keberuntungan adalah ketika jiwa kembali kepada fitrah sucinya melalui tazkiyah.
- The Message of the Quran (Muhammad Asad): Ayat ini mengisyaratkan kesadaran moral bawaan. Manusia secara naluriah mampu membedakan kebaikan dan keburukan.
- Tafsir Al-Mizan (Allamah Thabathabai): Tazkiyah adalah proses aktualisasi diri menuju kedekatan dengan Allah. Dosa ibarat lapisan yang menutupi cahaya jiwa.
- Tafsir Al-Mishbah (M. Quraish Shihab): Kata zakā mengandung makna tumbuh, berkembang, dan berkah. Jiwa yang bersih akan tumbuh subur dalam iman dan amal saleh.
2. Makna “Man Dassāhā”
Kata dassā (دَسَّاهَا) berarti mengubur, menimbun, menutupi, atau merendahkan. Man dassāhā adalah orang yang mengubur jiwa baiknya di bawah tumpukan dosa, hawa nafsu, kesombongan, dan kelalaian.
Maka khāba (خَابَ) berarti rugi, gagal, hampa, dan kecewa. Seseorang mungkin tampak sukses secara lahiriah di dunia, tetapi secara hakikat ia merugi jika jiwanya kotor.
Pandangan Para Mufasir:
- The Study Quran: “Mengubur” jiwa berarti menutupi cahaya ilahi akibat dosa maupun kelalaian spiritual.
- Muhammad Asad: Dassāhā adalah pengkhianatan terhadap fitrah. Menolak suara hati dan menuruti hawa nafsu membuat manusia kehilangan arah hidup.
- Tafsir Al-Mizan: Menenggelamkan jiwa ke dalam lumpur kejahatan membuat jiwa semakin sulit mengenali kebenaran.
- Tafsir Al-Mishbah: Jiwa dapat terkubur melalui kebiasaan buruk, lingkungan yang tidak sehat, dan tontonan yang merusak.
3. Muhammadiyah Kota Salatiga sebagai Gerakan Tazkiyah
Sebagai gerakan Islam berkemajuan, amar makruf nahi mungkar, tajdid, purifikasi, dan dinamisasi, Muhammadiyah pada hakikatnya adalah gerakan tazkiyah—menyucikan jiwa, akidah, ibadah, harta, dan kehidupan sosial.
Implementasi gerakan tazkiyah di Kota Salatiga mencakup berbagai bidang:
- Tazkiyah Akidah dan Ibadah: Melalui pengajian rutin, Majelis Tarjih, dan dakwah masjid untuk membersihkan akidah dari syirik, takhayul, bid’ah, dan khurafat (TBC).
- Tazkiyah Akhlak: Mewujudkan kader yang jujur, amanah, anti-korupsi, toleran, dan santun di media sosial.
- Tazkiyah Harta: Pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan wakaf melalui Lazismu untuk membantu sesama, Beasiswa, santunan dhuafa, dan pemberdayaan umat.
- Tazkiyah Sosial: Pelayanan pendidikan, kesehatan, panti asuhan, hingga kesiapsiagaan bencana melalui KOKAM/MDMC sebagai wujud Teologi Al-Ma’un.
- Tazkiyah Generasi: Pembinaan generasi muda (IPM, NA, HW, TS, IMM, Aisyiyah) agar terhindar dari penyakit sosial modern seperti judi online, pinjol, narkoba, dan kecanduan gadget.
- Tazkiyah Lingkungan: Menjaga keasrian Kota Salatiga melalui gerakan masjid bersih, sedekah sampah, dan penghijauan.
4. Peringatan: Jangan Sampai “Dassāhā”
Jika Muhammadiyah Kota Salatiga hanya sibuk dengan simbol, perebutan jabatan, konflik internal, atau dakwah seremonial semata, maka tanpa sadar kita sedang mengubur jiwa organisasi. Organisasi mungkin terlihat besar secara fisik, tetapi ruhaninya kosong (khāba / rugi).
Ukuran keberhasilan organisasi bukan sekadar banyaknya acara atau cantiknya gedung, melainkan sejauh mana anggota dan warganya semakin bersih jiwanya, benar ibadahnya, mulia akhlaknya, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Penutup
Agenda utama kita hari ini adalah tazkiyah: tazkiyah pribadi, keluarga, organisasi, dan masyarakat. Mari kita jadikan Muhammadiyah sebagai sarana man zakkāhā, bukan man dassāhā.
Rasulullah SAW mengajarkan doa penyucian jiwa yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا
Allāhumma āti nafsī taqwāhā, wa zakkihā Anta khairu man zakkāhā, Anta waliyyuhā wa maulāhā.
“Ya Allah, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku dan sucikanlah ia. Engkaulah sebaik-baik Yang Menyucikannya, Engkaulah Pelindung dan Penolongnya.”
(HR. Muslim no. 2722)
Wallāhu a’lam bish-shawāb.
Billahi fī sabīlil haq,
نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Naṣrun minallāhi wa fatḥun qarīb, wa basysyiril mu’minīn.
“Pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang mukmin.”
Kajian Ahad Pagi Pencerah: Prof. Dr. H. Adang Kuswaya, M.Ag.
Editor: Huda
