
Di tengah kesibukan menjalani aktivitas sehari-hari, ada baiknya kita mengambil jeda sejenak untuk merenungkan pesan Al-Qur’an. Salah satunya terdapat dalam Surah Saba’ ayat 44, yang mengingatkan manusia agar tidak menolak kebenaran tanpa landasan yang jelas.
Allah Swt. berfirman:
وَمَآ اٰتَيْنٰهُمْ مِّنْ كُتُبٍ يَّدْرُسُوْنَهَا وَمَآ اَرْسَلْنَآ اِلَيْهِمْ قَبْلَكَ مِنْ نَّذِيْرٍۗ
Artinya:
“Tidaklah Kami berikan kepada mereka kitab apa pun yang mereka pelajari dan tidak (pula) Kami utus seorang pemberi peringatan kepada mereka sebelum engkau (Nabi Muhammad).” (QS. Saba’ [34]: 44)
Kebenaran Memerlukan Landasan
Ayat ini menjelaskan bantahan Allah terhadap kaum musyrik Makkah yang menolak kerasulan Nabi Muhammad saw. Mereka tidak memiliki kitab suci yang menjadi landasan untuk membenarkan keyakinan mereka, tetapi tetap menentang ajaran yang dibawa Rasulullah.
Dalam Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, ayat ini menegaskan bahwa keyakinan kaum musyrik terhadap agama nenek moyang mereka tidak didasarkan pada kitab suci yang diturunkan Allah maupun ajaran nabi yang diutus-Nya. Dengan demikian, penolakan mereka terhadap Rasulullah tidak memiliki dasar yang dapat dibenarkan.
Pesan ini mengajarkan bahwa keyakinan tidak semestinya dibangun hanya berdasarkan kebiasaan, warisan pemikiran, atau pendapat yang diterima begitu saja. Setiap klaim tentang kebenaran perlu ditimbang berdasarkan landasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berhenti Sejenak, Periksa Kembali Keyakinan Kita
Dalam kehidupan sehari-hari, kita kerap berhadapan dengan beragam informasi, pendapat, dan perbedaan pandangan. Tidak semua yang terdengar meyakinkan pasti benar. Begitu pula, sesuatu yang berbeda dari kebiasaan kita tidak serta-merta salah.
Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri untuk mencari ilmu, memeriksa sumber informasi, dan bersikap terbuka terhadap nasihat yang baik. Jangan sampai kebiasaan membuat kita menutup diri dari kebenaran, atau prasangka mendorong kita menolak sesuatu sebelum memahaminya.
Rehat sejenak bukan sekadar menghentikan aktivitas fisik, melainkan juga memberi ruang bagi hati dan pikiran untuk melakukan introspeksi. Sudahkah kita mendasarkan keyakinan pada ilmu? Sudahkah kita bersedia menerima nasihat ketika menyadari kekeliruan?
Menjadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman
Al-Qur’an hadir sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia. Mempelajarinya bukan hanya tentang membaca ayat, tetapi juga memahami pesan dan menerapkannya dalam sikap sehari-hari.
QS. Saba’ ayat 44 mengajak kita untuk tidak mempertahankan suatu keyakinan hanya karena telah lama dianut. Sebaliknya, kita perlu terus belajar, menguatkan pemahaman, dan menjadikan petunjuk Allah sebagai landasan dalam menilai sesuatu.
Rehat sejenak, luruskan niat, tambah ilmu, dan bukalah hati untuk menerima kebenaran. Sebab, kedewasaan iman juga tercermin dari kesediaan kita untuk belajar dan memperbaiki diri.
Wallahu a‘lam bish-shawab.
Editor: Huda
