Ketika Usia Bertambah, Kekuatan Perlahan Berkurang

Allah Swt. berfirman dalam Q.S. Yāsīn ayat 68:

وَمَنْ نُّعَمِّرْهُ نُنَكِّسْهُ فِى الْخَلْقِۗ اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Artinya:

“Dan barang siapa Kami panjangkan umurnya, niscaya Kami kembalikan dia kepada awal kejadiannya (menjadi lemah). Maka mengapa mereka tidak mengerti?” (Q.S. Yāsīn: 68).

Usia Panjang Bukan Sekadar Bertambahnya Tahun

Ada pesan kehidupan yang begitu mendalam dalam ayat ini. Allah Swt. mengingatkan bahwa perjalanan manusia bukanlah perjalanan menuju kekuatan yang abadi. Sebaliknya, semakin panjang usia seseorang, semakin dekat pula ia dengan fase ketika kekuatan fisik, ketajaman ingatan, dan kemampuan tubuh perlahan mengalami penurunan.

Dahulu, kita belajar berjalan dengan tertatih-tatih. Kemudian tumbuh menjadi manusia yang kuat, mampu bekerja, berlari, dan menanggung berbagai tanggung jawab kehidupan. Namun, pada waktunya, langkah yang dahulu tegap dapat kembali melambat. Tangan yang dahulu kuat menggenggam mulai melemah. Bahkan, untuk melakukan sesuatu yang sederhana pun terkadang membutuhkan bantuan orang lain. Inilah sunnatullah, ketetapan Allah dalam kehidupan manusia.

Kesombongan yang Dipatahkan oleh Waktu

Ketika berada di puncak kekuatan, memiliki jabatan, kekayaan, ilmu pengetahuan, dan pengaruh, manusia terkadang merasa mampu mengendalikan segalanya. Padahal, ada satu hal yang tidak dapat dihentikan oleh kekuasaan apa pun, yaitu perjalanan usia.

Waktu tidak pernah meminta izin untuk mengubah keadaan seseorang. Orang yang dahulu dihormati karena kekuatannya, suatu saat mungkin membutuhkan uluran tangan. Mereka yang dahulu menjadi tempat bergantung, kelak mungkin justru memerlukan tempat bersandar.

Karena itu, semakin tinggi kedudukan seseorang, seharusnya semakin besar pula kerendahan hatinya. Sebab, apa yang hari ini menjadi kebanggaan, esok mungkin tinggal kenangan.

Menjadi Tua Adalah Kepastian, Bijaksana Adalah Pilihan

Ada bagian yang sangat menarik pada akhir Q.S. Yāsīn ayat 68:

اَفَلَا يَعْقِلُوْنَ

Artinya: “Maka mengapa mereka tidak mengerti?”

Allah Swt. tidak sekadar mengingatkan bahwa manusia akan mengalami penuaan. Allah mengajak manusia menggunakan akalnya untuk merenungkan makna di balik perubahan tersebut.

Bertambahnya usia semestinya bukan hanya ditandai dengan bertambahnya kerutan di wajah, tetapi juga bertambahnya kebijaksanaan dalam berpikir, kelembutan dalam berbicara, dan kedewasaan dalam memperlakukan orang lain.

Sebab, tidak semua orang yang bertambah tua otomatis menjadi bijaksana. Kebijaksanaan lahir ketika seseorang mampu mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya.

Sebelum Waktu Mengambil Kekuatan

Selagi tubuh masih kuat, gunakanlah untuk memberikan manfaat kepada sesama. Selagi pikiran masih jernih, gunakanlah untuk menghasilkan ilmu yang bermanfaat. Selagi memiliki kedudukan, gunakanlah untuk memuliakan orang lain. Dan selagi masih memiliki kesempatan, perbaikilah hubungan dengan Allah Swt. dan sesama manusia.

Jangan menunggu lemah untuk memahami arti kekuatan. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai apa yang dimiliki. Dan jangan menunggu usia senja untuk menyadari bahwa kehidupan ini hanyalah sementara.

Pada Akhirnya, Semua Akan Belajar Melepaskan

Ada saatnya manusia berhenti mengejar pengakuan, bukan karena kehilangan cita-cita, melainkan karena mulai memahami bahwa tidak semua hal harus dimiliki dan tidak semua pencapaian harus dipuji.

Kita belajar bahwa kekuatan adalah titipan, usia adalah kesempatan, dan kehidupan adalah perjalanan menuju Allah Swt.

Pada akhirnya, yang paling berharga bukanlah seberapa lama kita hidup, seberapa tinggi jabatan yang pernah kita duduki, atau seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan. Melainkan, seberapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan ketika kekuatan itu perlahan diambil kembali.

Penulis: Ust. H.M. Nursikin Ibnu Abbas
Ediotr: Huda