Tetap Berharap kepada Rahmat Allah di Usia Senja

Bertambahnya usia merupakan bagian dari perjalanan hidup yang tidak dapat dihindari. Seiring bertambahnya usia, kondisi fisik manusia umumnya mengalami penurunan. Berbagai penyakit lebih mudah menyerang, daya tahan tubuh melemah, dan tenaga tidak lagi sekuat ketika masih muda. Bahkan, sebagian orang lanjut usia (lansia) harus menghadapi keterbatasan fisik akibat kelumpuhan, stroke, maupun gangguan kesehatan lainnya.

Dalam kondisi demikian, seorang Muslim harus tetap berikhtiar menjaga kehormatan diri serta memelihara harapan kepada rahmat Allah Swt. Islam mengajarkan bahwa seorang mukmin tidak boleh menyerah menghadapi keadaan, apalagi berputus asa dari pertolongan Allah. Al-Qur’an menegaskan:

وَلَا تَا۟يْـَٔسُوْا مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ ۗ اِنَّهٗ لَا يَا۟يْـَٔسُ مِنْ رَّوْحِ اللّٰهِ اِلَّا الْقَوْمُ الْكٰفِرُوْنَ

“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yūsuf [12]: 87).

Ayat tersebut memberikan pesan bahwa harapan kepada Allah harus senantiasa dijaga dalam keadaan apa pun. Keterbatasan fisik bukan alasan untuk kehilangan semangat menjalani kehidupan dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Menghadapi Realitas Kehidupan di Usia Senja

Memasuki usia lanjut, seseorang menghadapi berbagai perubahan dalam kehidupannya. Tidak hanya tenaga dan kesehatan yang menurun, tetapi juga kondisi ekonomi, berkurangnya teman-teman dekat, hilangnya peran atau kekuasaan, hingga menurunnya vitalitas hidup.

Tidak jarang, keluarga mendengar keluhan seperti, “Mbah Kakung sare mawon, raos kesel, lemes, mboten saged tindak masjid.” Artinya, kakek hanya berbaring karena merasa lelah, lemas, dan tidak mampu lagi pergi ke masjid.

Keluhan semacam itu menggambarkan kenyataan yang dihadapi sebagian generasi lanjut usia. Ada kalanya semangat hidup perlahan meredup. Aktivitas yang dahulu mudah dilakukan kini terasa berat. Hari-hari lebih banyak dihabiskan dengan beristirahat, sementara ruang gerak semakin terbatas.

Namun, dalam situasi seperti ini, seorang Muslim tetap perlu menjaga harapan. Selama masih diberikan kesempatan hidup dan kesadaran, selalu ada ruang untuk beribadah, berdoa, membaca Al-Qur’an, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Belajar dari Kesedihan Nabi Ya’qub

Al-Qur’an memberikan pelajaran berharga melalui kisah Nabi Ya’qub. Di balik keteguhan imannya, Nabi Ya’qub juga merasakan kesedihan mendalam akibat kehilangan putranya, Nabi Yusuf. Kesedihan itu tidak membuatnya berhenti berharap kepada Allah.

Dalam surah Yūsuf ayat 86, Allah mengabadikan ungkapan Nabi Ya’qub:

اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ

“Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.” (QS. Yūsuf [12]: 86).

Dalam penjelasan Tafsir Kementerian Agama, ayat tersebut menggambarkan jawaban Nabi Ya’qub kepada anak-anaknya. Beliau menegaskan bahwa segala kesusahan dan kesedihan yang dialaminya diadukan hanya kepada Allah. Kepada-Nya pula beliau memohon perlindungan dan pertolongan agar kesedihan serta kesusahan yang menimpanya dapat dihilangkan.

Nabi Ya’qub tetap meyakini bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui manusia. Beliau juga tetap menyimpan keyakinan bahwa Nabi Yusuf masih hidup dan Allah akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada keluarga Ya’qub.

Kisah ini mengajarkan bahwa kesedihan bukanlah tanda hilangnya keimanan. Seorang mukmin boleh merasakan kesedihan, kelelahan, bahkan kekecewaan. Akan tetapi, semua itu hendaknya menjadi jalan untuk semakin mendekatkan diri dan bersandar kepada Allah.

Menghadirkan Ketenangan dengan Mengingat Allah

Bagi seseorang yang memasuki usia senja, menerima kenyataan tentang perubahan kondisi fisik dan keterbatasan hidup memang bukan perkara mudah. Namun, ketenangan hati dapat terus diupayakan melalui keimanan dan zikir kepada Allah.

Allah Swt. berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d [13]: 28).

Ayat ini menegaskan bahwa ketenteraman hati tidak semata-mata ditentukan oleh kuatnya fisik, banyaknya harta, atau luasnya kekuasaan. Ada ketenangan yang tumbuh dari kedekatan seorang hamba dengan Allah.

Oleh karena itu, menghadapi masa tua hendaknya tidak hanya diisi dengan keluhan atas berbagai keterbatasan. Selama masih diberikan kesempatan, seorang Muslim dapat terus memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, berdoa, dan menjalankan ibadah sesuai dengan kemampuan.

Pada akhirnya, bertambahnya usia memang membawa berbagai perubahan. Tenaga boleh melemah, kesehatan boleh menurun, dan aktivitas mungkin tidak lagi seleluasa dahulu. Namun, harapan kepada rahmat Allah tidak boleh ikut memudar.

Menua adalah keniscayaan, tetapi berputus asa bukan pilihan seorang mukmin. Tetaplah berikhtiar, bersandar kepada Allah, dan berharap akan rahmat-Nya hingga akhir hayat.

Penulis: Imam Sutomo
Editor: Huda