
Ada kalanya manusia perlu berhenti sejenak dari kesibukan. Bukan untuk menyerah, melainkan untuk mengambil jarak, menenangkan diri, dan kembali melihat perjalanan hidup dengan lebih jernih.
Allah Swt. mengingatkan tentang kisah kaum Saba’ dalam QS Saba’ ayat 19:
فَقَالُوْا رَبَّنَا بٰعِدْ بَيْنَ اَسْفَارِنَا وَظَلَمُوْٓا اَنْفُسَهُمْ فَجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَ وَمَزَّقْنٰهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُوْرٍ
“Mereka berkata, ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah jarak perjalanan kami,’ dan mereka menzalimi diri sendiri. Kami jadikan mereka buah bibir dan Kami hancurkan mereka sehancur-hancurnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan Allah) bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur.”
Ayat tersebut menggambarkan bagaimana kaum Saba’ yang sebelumnya memperoleh berbagai kenikmatan justru menginginkan perubahan pada perjalanan mereka. Mereka tidak lagi menghargai kemudahan yang telah diberikan Allah. Pada akhirnya, mereka tercerai-berai dan kehancuran menimpa kehidupan mereka.
Kisah tersebut menjadi pengingat bahwa manusia sering kali baru menyadari nilai sebuah nikmat ketika nikmat itu telah hilang.
Jangan Sampai Lupa Bersyukur
Dalam menjalani kehidupan, manusia tidak selalu berada dalam kondisi yang sama. Ada masa ketika semuanya terasa mudah, tetapi ada pula saat perjalanan terasa berat dan melelahkan.
Di tengah kondisi tersebut, Islam mengajarkan dua sikap penting: sabar dan syukur.
Sabar bukan berarti pasif menghadapi keadaan. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada dalam jalan kebaikan ketika menghadapi kesulitan. Sementara syukur bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah, tetapi juga menyadari nikmat Allah dan menggunakannya untuk kebaikan.
Karena itu, rehat sejenak dapat menjadi kesempatan untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita mensyukuri apa yang dimiliki? Sudahkah waktu, kesehatan, keluarga, pekerjaan, ilmu, dan kesempatan yang diberikan Allah digunakan dengan sebaik-baiknya?
Rehat Bukan Berarti Berhenti
Beristirahat sejenak merupakan bagian dari menjaga keseimbangan hidup. Ada saatnya seseorang perlu mengurangi aktivitas, menenangkan pikiran, memperbanyak doa, dan melakukan evaluasi diri.
Dalam rehat itu, kita dapat kembali mengingat bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita sampai pada tujuan, tetapi juga bagaimana kita menjalaninya dengan nilai-nilai keimanan.
QS Saba’ ayat 19 ditutup dengan pesan yang sangat dalam: “bagi setiap orang yang sangat sabar lagi sangat bersyukur.”
Artinya, di balik berbagai peristiwa kehidupan selalu ada pelajaran bagi mereka yang mau bersabar dan bersyukur.
Maka, jika hari ini terasa melelahkan, rehatlah sejenak. Bukan untuk meninggalkan perjalanan, tetapi untuk menguatkan langkah. Menata kembali niat, mensyukuri yang telah dimiliki, dan melanjutkan perjalanan dengan hati yang lebih tenang.
Sebab boleh jadi, yang kita butuhkan bukan perjalanan yang lebih jauh, melainkan hati yang lebih mampu bersyukur atas perjalanan yang sedang dijalani.
