
Dalam berinteraksi dan berdiskusi sehari-hari, kita sering kali menemui perbedaan pendapat yang berpotensi memicu perdebatan sengit. Al-Qur’an memberikan panduan elegan tentang bagaimana seorang Muslim harus bersikap ketika menghadapi perbedaan atau penolakan. Salah satu prinsip tersebut tersurat jelas dalam Surah Saba’ [34] ayat 25.
Allah SWT berfirman:
قُلْ لَّا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّآ اَجْرَمْنَا وَلَا نُسْـَٔلُ عَمَّا تَعْمَلُوْنَ
Katakanlah, “Kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami kerjakan dan kami tidak akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Saba’ [34]: 25)
Kandungan dan Hikmah Utama Ayat
1. Setiap Jiwa Memikul Bebannya Sendiri
Ayat ini menegaskan prinsip keadilan Ilahi. Di akhirat kelak, setiap individu bertanggung jawab penuh atas amal perbuatannya masing-masing. Dosa seseorang tidak akan ditanggungkan kepada orang lain, begitu pula sebaliknya. Prinsip ini sejalan dengan firman Allah dalam surah lain yang menyatakan bahwa seorang pembawa dosa tidak akan memikul dosa orang lain.
2. Etika dan Kesantunan Berkomunikasi
Secara kebahasaan, pemilihan kata dalam ayat ini menunjukkan kerendahan hati (tawadhu’) yang luar biasa dalam berdakwah:
- Ketika merujuk pada diri sendiri (Nabi Muhammad SAW dan umatnya), Al-Qur’an menggunakan kata أَجْرَمْنَا (ajramna – jika kami berbuat dosa/kesalahan).
- Sementara ketika merujuk pada lawan bicara, Al-Qur’an menggunakan kata تَعْمَلُوْنَ (ta’malun – apa yang kamu kerjakan).
Penggunaan bahasa ini mengajarkan kita untuk tidak terkesan memojokkan atau menghakimi orang lain dalam berdiskusi.
3. Solusi Meredakan Perdebatan yang Tidak Produktif
Ayat ini memberi petunjuk cara mengakhiri debat kusir. Ketika penyampaian kebaikan sudah maksimal namun tetap menemui kebuntuan atau penolakan, sikap terbaik adalah mengembalikan segala urusan kepada Allah dan fokus pada perbaikan diri masing-masing.
Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
- Fokus pada Perbaikan Diri: Daripada menghabiskan energi untuk menilai dan menghakimi amal orang lain, prioritaskan untuk mengoreksi diri sendiri (muhasabah).
- Menghormati Batas Tanggung Jawab: Tugas kita adalah menyampaikan kebaikan dan saling mengingatkan dengan cara yang santun, bukan memaksa atau mengontrol pilihan orang lain.
- Menjaga Kesantunan Bicara: Gunakan pendekatan yang merendah dan tidak menggurui saat berdiskusi, terutama mengenai masalah agama atau pandangan hidup.
Kesimpulan
Surah Saba’ ayat 25 mengajarkan kesadaran akan tanggung jawab pribadi di hadapan Allah SWT sekaligus memberikan keteladanan tentang etika komunikasi yang santun. Dengan memahami ayat ini, seorang Muslim diharapkan dapat menjaga kedamaian dalam berinteraksi tanpa harus kehilangan prinsip.
Editor: Huda
