
Menjadi salah satu organisasi keagamaan terbesar di dunia tentu bukan sebuah capaian yang instan. Keberadaan Muhammadiyah dengan ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan hingga ke mancanegara, merupakan buah manis dari sebuah benih yang bernama keikhlasan.
Bayangkan jika aset dan besarnya Muhammadiyah hari ini dimonopoli oleh segelintir orang. Tentu nilainya tidak akan se-luar biasa ini. Nilai kebermanfaatannya akan tergerus oleh ego kelompok, dan esensi dakwahnya akan menyusut menjadi sekadar kepemilikan materi. Namun, sejarah mencatat jalan yang sama sekali berbeda. Sang pendiri, KH. Ahmad Dahlan, memilih jalan dakwah kultural dan model kepemimpinan yang kolektif-kolegial.
Belajar dari Spirit KH. Ahmad Dahlan
Dalam berbagai catatan sejarah perjuangan, KH. Ahmad Dahlan tidak pernah memosisikan dirinya sebagai “pemilik” tunggal atas gerakan yang ia bidani. Beliau mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, hingga seluruh harta bendanya demi tegaknya syiar Islam dan kemaslahatan umat.
Model kepemimpinan kolektif-kolegial yang diwariskannya memastikan bahwa Muhammadiyah adalah milik umat, digerakkan secara bersama-sama, dan dirawat dengan sistem kepemimpinan yang kolegial—bukan berdasarkan dinasti atau kepemilikan personal. Keberhasilan dakwah kultural ini membuat Muhammadiyah membumi, diterima oleh berbagai lapisan masyarakat, dan terus berkembang melintasi zaman.
Dakwah itu Memberi, Bukan Mengambil
Melalui refleksi dari fragmen sejarah ini, para kader dan pimpinan di lingkungan Muhammadiyah Salatiga diajak untuk kembali merenungkan makna sejati dari sebuah kata bernama khidmat. Berkhidmat di dalam Persyarikatan berarti menepikan kepentingan dan ego pribadi, lalu menaruh maslahat yang lebih besar di atas segalanya.
“Dakwah itu memberi, bukan mengambil. Mari kita rawat warisan perjuangan ini dengan keikhlasan yang sama.”
Pesan singkat namun mendalam ini menjadi pengingat bagi seluruh elemen Persyarikatan—baik di tingkat pimpinan, pengelola amal usaha, hingga tingkat ranting. Ketika perjuangan didasari oleh ketulusan tanpa adanya tendensi untuk mendominasi, maka setiap usaha yang dilakukan tidak akan pernah menjadi beban. Sebaliknya, ia akan bertransformasi menjadi warisan kebaikan yang terus mengalir bagi peradaban.
Melalui momentum kajian dan refleksi ideologi ini, Muhammadiyah Salatiga berkomitmen untuk terus menjaga spirit kolektif-kolegial tersebut. Menjaga amanah umat dengan profesional, merawat amal usaha dengan transparan, dan memastikan bahwa setiap gerak langkah Persyarikatan senantiasa bermuara pada keridaan Allah Swt. serta kemaslahatan masyarakat luas.
Penulis : Huda
