Allah-lah Pemilik Segala Kekuasaan

“Dan Dia mewariskan kepadamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 27)

Setiap manusia memiliki impian, cita-cita, dan harapan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik. Namun, Al-Qur’an mengingatkan bahwa apa pun yang kita miliki pada hakikatnya bukan semata-mata hasil kekuatan, kecerdasan, atau usaha manusia. Semua itu merupakan anugerah dan ketetapan dari Allah Swt.

Dalam Surah Al-Ahzab ayat 27, Allah menjelaskan bagaimana Dia memberikan kemenangan kepada kaum mukmin dengan mewariskan kepada mereka tanah, rumah, harta benda, bahkan wilayah-wilayah yang sebelumnya belum pernah mereka masuki. Ayat ini turun setelah peristiwa pengepungan terhadap Bani Quraizhah sebagai bukti nyata bahwa Allah mampu membalikkan keadaan sesuai dengan kehendak-Nya. Para mufasir juga menjelaskan bahwa frasa “tanah yang belum kamu injak” mencakup berbagai negeri yang kemudian dibukakan Allah bagi kaum muslimin pada masa berikutnya.

Ayat ini mengajarkan bahwa kemenangan dan keberhasilan tidak hanya diukur dari besarnya ikhtiar manusia, tetapi juga dari pertolongan Allah. Manusia diwajibkan berusaha sebaik-baiknya, sementara hasil akhirnya tetap berada dalam kekuasaan Allah Yang Mahakuasa.

Dalam kehidupan sehari-hari, pesan ayat ini tetap relevan. Rezeki yang datang tanpa disangka, kesempatan yang terbuka di luar perkiraan, maupun keberhasilan yang diraih setelah melalui berbagai ujian merupakan bukti bahwa Allah memiliki kuasa atas segala sesuatu. Apa yang hari ini tampak mustahil, dapat menjadi kenyataan apabila Allah menghendakinya.

Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, ia juga tidak boleh sombong ketika memperoleh keberhasilan. Semua nikmat yang diterima adalah amanah yang harus disyukuri dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan.

Muhammadiyah mengajarkan bahwa keimanan harus melahirkan etos kerja, optimisme, dan tawakal. Berusaha secara maksimal merupakan bentuk ikhtiar, sedangkan berserah diri kepada Allah setelah berusaha merupakan wujud tawakal yang benar. Keduanya harus berjalan seiring.

Semoga ayat ini semakin meneguhkan keyakinan kita bahwa Allah adalah Pemilik seluruh kerajaan langit dan bumi. Dia mampu memberikan apa yang belum pernah kita bayangkan, membuka jalan yang tidak pernah kita sangka, serta mengubah keadaan dalam sekejap sesuai dengan hikmah dan kehendak-Nya.

Marilah kita terus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, memperbanyak doa, dan menjaga ketakwaan kepada Allah. Sebab, di tangan-Nya lah segala urusan bermula dan berakhir.

Editor : Huda