
Setiap manusia membutuhkan momentum untuk rehat sejenak dari hiruk-pikuk aktivitas duniawi. Lebih dari sekadar mengistirahatkan fisik, jeda singkat ini menjadi ruang perenungan (muhasabah) untuk menata kembali niat, memperkuat keimanan, dan meluruskan cara pandang hidup sesuai tuntunan Al-Qur’an.
Dalam Surah Saba’ ayat 53, Allah Swt. menegaskan tentang kondisi orang-orang yang mengingkari kebenaran sewaktu di dunia:
وَقَدْ كَفَرُوْا بِهٖ مِنْ قَبْلُۚ وَيَقْذِفُوْنَ بِالْغَيْبِ مِنْ مَّكَانٍۢ بَعِيْدٍۚ
“Sungguh, mereka telah kufur terhadap kebenaran sebelum itu (ketika di dunia) dan melontarkan (keraguan) tentang yang gaib dari tempat yang jauh.”
(Q.S. Saba’ [34]: 53)
Kandungan dan Tadabur Ayat
Lafal yagdzifūna bil-ghaibi min makānim ba’īd (melontarkan keraguan tentang yang gaib dari tempat yang jauh) merupakan kiasan bagi sikap prasangka, asumsi tanpa dasar, dan keraguan terhadap hal-hal yang tidak dapat dijangkau oleh panca indra semata. Tempat yang jauh menggambarkan jarak ketidaktahuan manusia yang mencoba menghakimi kebenaran wahyu hanya dengan logika terbatas.
Poin Penting Perenungan:
- Pengakuan di Waktu yang Terlambat: Sikap menolak kebenaran atau menunda kesadaran saat di dunia hanya akan melahirkan penyesalan di akhirat. Penyesalan tersebut tidak lagi membawa manfaat ketika pintu ampunan telah tertutup.
- Bahaya Berspekulasi atas Hal Gaib: Mengukur kebenaran akhirat, takdir, dan hal gaib semata-mata dengan prasangka atau rasionalitas dangkal dapat membimbing seseorang pada kekufuran.
- Pentingnya Keimanan Berlandaskan Ilmu: Iman kepada hal gaib—seperti adanya hari kebangkitan, surga, dan neraka—bukanlah kepercayaan buta, melainkan keyakinan yang berlandaskan petunjuk wahyu Swt. dan pembuktian tanda-tanda kekuasaan-Nya.
Penutup
Melalui momentum rehat ini, marilah kita senantiasa memohon petunjuk agar dihindarkan dari penyakit keraguan (syubhat) dan dipelihara dalam keimanan yang kokoh hingga akhir hayat.
Editor:Huda
