
Oleh. Hammam
Pagi itu langit cerah. Perjalanan dari Salatiga menuju hotel Pesona Ketep begitu indah. Sejauh mata memandang menuju lokasi, dimanjakan oleh dua gunung Merbabu dan Merapi. Nampak tinggi menjulang kebiruan dari kejauhn dan kehijauan begitu mendekatinya. Bukan untuk mendakinya tentunya tetapi bertemu para guru hebat di SMP Mutual kota Magelang.
Memang salah satu penciri sekolah unggul selalu berinovasi. Memanfaatkan waktu tiada henti. Meskipun liburan, sekolah tetap semangat beraktifitas. Para guru rerata masih muda. Ibu guru mendominasi jumlahnya tidak sebanding dengan bapak guru. Umumnya kegiatan semacan ini sering dikenal dengan in house training. SMP Mutual mengemasnya dengan kegiatan Baitul Arqam. Istilah pakem yang digunakan dalam perguruan Muhammadiyah atau amal usaha Muhammadiyah lainnya.
Menariknya lagi kegiatan ini dihadiri oleh beberapa mahasiswa internasional Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga. Paparan materi dikemas secara kolaboratif dengan mereka. Para mahasiswa mengawali pembicaraan dengan perkenalan. Hingga pengalaman tinggal di kota Salatiga. Bagaimana bersosialisasi dengan warga kampus dan masyarakat sekitar tak luput dari perhatiannya.
Poin penting tulisan ini menggali sosok guru hebat dimata murdinya. Terdapat beberapa kriteria subjektif seorang guru hebat. Pertama, guru mengajar dengan tulus penuh dedikatif. Tekun memahamkan materi kepada para muridnya. Guru mampu bersabar menghadapi berbagai karakter murid yang unik. Mengembangkan karakter muridnya menjadi pribadi yang baik, adapatif, serta menjadi pembelajar mandiri. Begitu kira-kira menurut pendapat Gillian dan Flora, keduanya mahasiswa prodi Psikologi Islam UIN Salatiga dari Gambia.

Kedua, guru hebat merupakan teladan. Hadir tepat waktu tak terikat oleh kondisi. Senantiasa mendengarkan penuh kehangatan di tengah-tengah muridnya bercerita. Bahkan seorang guru hebat membuka cakrawala pandangan hidup para muridnya jauh ke depan. Menyiapkan para murid mampu hidup di masa yang berbeda dengan gurunya. Pandangan ini disampaikan oleh Muhammad Nasir, mahasiswa Teknologi Informasi UIN Salatiga yang berasal dari Yaman.
Ketiga, menurut Mafu mahasiwa Sains Data UIN Salatiga pengalaman pribadinya sebagai murid. Ia terkesan dengan gurunya yang menambah jam pelajaran bahasa Inggris pada hari libur secara gratis. Modal bahasa Inggris ini menjadi bekal dia untuk belajar ke luar negeri. Pengalaman belajar di luar jam sekolah sebagai tambahan cuma-cuma sangat membekas dalam dirinya. Apalagi kondisi ekonomi orang tua tidak memungkinkan untuk membayar les tambahan.
Pendek kata, guru hebat akan selalu berada dalam hati para muridnya. Mereka senantiasa hidup di alam fikirannya. Ia seperti nyala api yang menghidupkan sampai kapanpun dan dimanapun mereka berada. Penerang di saat kegelapan. Guru hebat bukan bekerja lebih baik setiap harinya namun hidupnya memuliakan para murid melaui keteladanan.
Menurut John C. Maxwell dalam Leader Shift (2025:45), guru hebat tidak lagi bekerja memenuhi target adiminstrasi pendidikan saja tetapi ia bertumbuh bersama dengan muridnya menjadi pribadi yang lebih baik. Guru hebat senantiasa memberikan vitamin inspirasi yang terus dicerna oleh muridnya bukan hanya sepanjang hari di kelas namun juga sepanjnag hayat.
Bahkan menurut Buya Syafi’i Ma’arif, guru hebat adalah tetap memilih hidup bersahaja di tengah gelombang hedonis materialistis. Tetaplah menjadi guru hebat dan menginspirasi para murid meski kadang tidak selalu diapresiasi yang sebanding dengan imbalan duniawi. Guru hebat berpandangan hidup mulia dengan integritas bukan standar lainnya.
editor : nanda
