
Penghambaan merupakan inti dari kehidupan seorang muslim. Dalam menjalani kehidupan, manusia perlu menjaga kemurnian tauhid dengan menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya Tuhan yang disembah dan tempat bergantung. Peringatan tentang pentingnya tauhid ini termaktub dalam Al-Qur’an Surah Saba’ ayat 40.
Allah Swt. berfirman:
وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ يَقُوْلُ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اَهٰٓؤُلَاۤءِ اِيَّاكُمْ كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ
Artinya:
“(Ingatlah) pada hari ketika Dia mengumpulkan mereka semua, kemudian berfirman kepada malaikat, ‘Apakah hanya kepadamu selama ini mereka menyembah?’” (QS. Saba’ [34]: 40).
Ayat ini menggambarkan peristiwa pada hari kiamat ketika Allah Swt. mengumpulkan seluruh manusia, kemudian bertanya kepada para malaikat mengenai orang-orang yang selama hidupnya dianggap menyembah mereka. Pertanyaan tersebut menjadi bagian dari penyingkapan kenyataan tentang keyakinan dan perbuatan manusia di hadapan Allah Swt.
Tauhid Harus Dijaga dalam Setiap Keadaan
Surah Saba’ ayat 40 mengingatkan bahwa penghambaan tidak boleh dialihkan kepada selain Allah Swt. Dalam ajaran Islam, malaikat merupakan makhluk Allah yang senantiasa taat kepada-Nya, bukan pihak yang berhak menerima penyembahan. Karena itu, ayat ini menegaskan pentingnya memahami tauhid secara benar dan tidak terjebak dalam keyakinan yang menyimpang.
Kemurnian tauhid bukan sekadar pengakuan bahwa Allah adalah Tuhan, melainkan juga diwujudkan melalui ibadah, doa, ketaatan, dan ketundukan kepada perintah-Nya. Seorang muslim hendaknya tidak menjadikan makhluk, kekuasaan, harta, ataupun kedudukan sebagai sesuatu yang menguasai hati hingga mengalahkan ketaatan kepada Allah.
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia memang membutuhkan pertolongan sesama, menghormati orang lain, dan memanfaatkan berbagai sarana untuk mencapai tujuan. Namun, semua itu harus tetap berada dalam batas-batas ajaran Islam. Menghormati makhluk tidak berarti menghambakan diri kepadanya.
Menguatkan Tauhid dalam Kehidupan Sehari-hari
Pesan ayat ini relevan untuk menjadi bahan introspeksi. Di tengah berbagai tuntutan kehidupan, manusia dapat dengan mudah menjadikan pencapaian duniawi sebagai orientasi utama. Harta, jabatan, popularitas, dan pengakuan orang lain terkadang begitu dikejar hingga melalaikan kewajiban kepada Allah Swt.
Padahal, kehidupan dunia hanyalah bagian dari perjalanan menuju akhirat. Apa yang dimiliki manusia tidak akan menjadi jaminan keselamatan apabila tidak disertai keimanan dan amal saleh. Oleh karena itu, menjaga tauhid perlu diwujudkan melalui ibadah yang benar, kejujuran dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Bagi warga Muhammadiyah, penguatan tauhid juga menjadi landasan dalam menggerakkan dakwah dan amal usaha. Pendidikan, pelayanan kesehatan, kegiatan sosial, dan pemberdayaan masyarakat merupakan bentuk ikhtiar menghadirkan kemaslahatan. Seluruh pengabdian tersebut hendaknya dilandasi keikhlasan karena Allah Swt., bukan semata-mata demi pujian atau kepentingan pribadi.
Menjadikan Akhirat sebagai Pengingat
Surah Saba’ ayat 40 mengajak setiap muslim untuk mengevaluasi kembali arah pengabdiannya. Jangan sampai kehidupan yang dijalani justru menjauhkan diri dari tujuan utama penciptaan manusia, yakni beribadah kepada Allah Swt.
Menjaga kemurnian tauhid berarti menempatkan Allah sebagai pusat ketaatan, menjadikan ajaran-Nya sebagai pedoman, serta menggunakan nikmat kehidupan untuk melakukan kebaikan. Dengan demikian, keimanan tidak berhenti pada ucapan, tetapi tercermin dalam sikap dan tindakan nyata.
Pada akhirnya, setiap manusia akan kembali kepada Allah Swt. Kesadaran akan hari perhitungan hendaknya mendorong kita untuk memperbaiki niat, meluruskan ibadah, dan memperbanyak amal saleh. Sebab, penghambaan yang benar bukan hanya tentang apa yang diucapkan, melainkan juga bagaimana keimanan itu diwujudkan sepanjang kehidupan.
Editor: Huda
