
وَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْ قَرْيَةٍ مِّنْ نَّذِيْرٍ اِلَّا قَالَ مُتْرَفُوْهَآ ۙاِنَّا بِمَآ اُرْسِلْتُمْ بِهٖ كٰفِرُوْنَ
“Tidaklah Kami utus pemberi peringatan ke suatu negeri, kecuali orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) berkata, ‘Sesungguhnya kami ingkar pada kerasulanmu.’”
(Saba’ [34]: 34)
Ada kalanya seseorang tidak menolak kebenaran karena tidak memahaminya, tetapi karena kebenaran itu dianggap mengganggu kenyamanan yang selama ini dinikmatinya.
Al-Qur’an menggambarkan hal tersebut melalui kisah para mutraf, yaitu orang-orang yang hidup dalam kemewahan dan berada dalam kondisi serba berkecukupan. Ketika datang peringatan dan ajakan menuju kebenaran, sebagian dari mereka justru menjadi kelompok yang paling keras menolak.
Ayat ini mengajak kita untuk melihat kembali hubungan antara kenyamanan, kekuasaan, dan sikap terhadap kebenaran.
Kenyamanan pada dasarnya bukan sesuatu yang salah. Memiliki harta, kedudukan, atau kehidupan yang berkecukupan juga bukan sebuah dosa. Namun, persoalan muncul ketika kenyamanan membuat seseorang merasa tidak membutuhkan nasihat, enggan dikoreksi, atau bahkan menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan kepentingannya.
Kebenaran terkadang datang membawa konsekuensi. Ia meminta seseorang untuk memperbaiki diri, mengurangi keserakahan, berlaku adil, peduli kepada sesama, dan meninggalkan sesuatu yang tidak semestinya dipertahankan.
Karena itu, tantangan terbesar bukan selalu mengenali mana yang benar dan mana yang salah. Tantangan yang lebih berat adalah kesediaan untuk menerima kebenaran ketika kebenaran itu mengharuskan kita berubah.
Dari ayat ini, kita juga dapat belajar untuk tidak menjadikan keberhasilan sebagai alasan untuk berhenti melakukan introspeksi. Semakin banyak yang dimiliki, semakin besar pula tanggung jawab yang menyertainya.
Jangan sampai fasilitas membuat kita lupa kepada tujuan. Jangan sampai jabatan membuat kita sulit menerima kritik. Jangan sampai kesibukan mempertahankan kenyamanan membuat hati kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain.
Pada akhirnya, yang perlu terus dijaga bukan hanya apa yang kita miliki, tetapi juga hati yang tetap terbuka terhadap nasihat dan kebenaran.
Sebab, boleh jadi yang membuat seseorang jauh dari kebenaran bukan karena ia kekurangan pengetahuan, melainkan karena ia terlalu nyaman untuk berubah.
Rehat sejenak. Periksa kembali hati kita. Ketika kebenaran datang, apakah kita menyambutnya atau justru merasa terganggu olehnya?
editor: Huda
