
SALATIGA – Penegakan nilai kejujuran dan keadilan dalam etika publik menjadi indikator utama kekuatan iman seseorang dalam membangun kehidupan pribadi maupun sosial. Melalui momentum Amalan Ramadan 1447 H di Salatiga, jamaah diingatkan bahwa risalah tauhid yang dibawa para nabi sejak Nabi Adam bertujuan untuk menggerakkan peradaban melalui tindakan nyata yang beradab.
Pentingnya Iman dalam Tindakan Nyata
Aktualisasi iman dalam Islam tidak boleh berhenti pada tataran lisan semata. Iman yang benar harus diyakini dalam hati dan diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, setiap perilaku dan hubungan sosial harus mencerminkan nilai-nilai keimanan tersebut.
“Iman tidak cukup hanya diucapkan dengan lisan. Iman harus diyakini dalam hati dan diwujudkan dalam tindakan nyata,” ujar Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag.. Hal ini menegaskan bahwa etika publik dalam Islam merupakan manifestasi langsung dari kualitas tauhid seseorang.
Selanjutnya, jika iman menjadi fondasi utama, maka masyarakat akan terbangun dengan nilai kejujuran dan keadilan. Kepedulian sosial juga akan tumbuh sebagai dampak alami dari keyakinan yang kuat kepada Tuhan. Nilai-nilai ini menjadi pilar utama dalam membangun hubungan antarmanusia yang harmonis.
Aktualisasi Aqidah Berkemajuan di Era Modern
Konsep Islam berkemajuan menekankan bahwa iman harus mampu menghadirkan kemaslahatan bagi publik luas. Nilai-nilai keimanan bertindak sebagai dasar bagi tindakan sosial dan etika publik yang bertanggung jawab. Dengan demikian, setiap aktivitas masyarakat tetap berada dalam koridor moralitas yang tinggi.
“Iman tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menjadi dasar dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag.. Beliau menambahkan bahwa etika publik dan interaksi sesama harus selalu berlandaskan nilai iman.
Selain aspek sosial, iman juga menjadi fondasi penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemajuan iptek seharusnya membawa manfaat dan kebahagiaan bagi umat manusia. Sebaliknya, ilmu pengetahuan tidak boleh memicu kerusakan atau konflik di tengah masyarakat.
Membangun Peradaban yang Berkeadilan
Sejarah mencatat bahwa para nabi terdahulu telah mengajarkan berbagai aspek kemajuan peradaban. Mereka tidak hanya membawa risalah tauhid, tetapi juga memperkenalkan teknologi dan ilmu pengetahuan. Maka dari itu, umat Islam saat ini diharapkan mampu mengaktualisasikan nilai kejujuran bermasyarakat dalam pembangunan peradaban.
“Kemajuan peradaban harus tetap berakar pada nilai-nilai keimanan,” ujar Prof. Dr. H. Zakiyuddin Baidhawy, M.Ag.. Beliau menekankan bahwa iman adalah kekuatan yang membentuk peradaban yang beradab dan berkeadilan.
Sebagai penutup, aqidah Islam berkemajuan menjadi motor penggerak bagi umat untuk terus bergerak maju. Kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat dunia hanya bisa tercapai jika iman telah menjadi jiwa dalam setiap etika publik. Iman dan keadilan sosial adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam mencapai kemaslahatan universal.
