Rehat Sejenak: Jangan Terlena oleh Nikmat yang Melalaikan

لِيَكْفُرُوْا بِمَآ اٰتَيْنٰهُمْۙ وَلِيَتَمَتَّعُوْاۗ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

“Biarkanlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami anugerahkan kepada mereka dan biarkanlah mereka (hidup) bersenang-senang (dalam kekafiran). Kelak mereka akan mengetahui (akibat perbuatannya).”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 66)

Dalam kehidupan, manusia kerap terlena oleh kelapangan dan kenikmatan dunia. Harta, jabatan, dan kesenangan sering kali membuat seseorang lupa bahwa semua itu adalah amanah dari Allah Swt. Ayat ini menjadi pengingat keras bahwa nikmat yang tidak disyukuri justru dapat menjerumuskan manusia pada kelalaian dan kekufuran.

Allah Swt. memberi kebebasan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Namun, kebebasan tersebut bukan tanpa konsekuensi. Kesenangan yang dinikmati tanpa kesadaran iman dan tanggung jawab hanya bersifat sementara. Pada akhirnya, setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.

Melalui ayat ini, Allah mengajak hamba-Nya untuk berhenti sejenak, merenung, dan mengevaluasi diri: apakah nikmat yang kita terima semakin mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan kita dari nilai-nilai ketaatan?

Rehat sejenak bukan berarti berhenti berusaha, melainkan mengambil jeda untuk meluruskan niat, menumbuhkan rasa syukur, dan memperkuat kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang menikmati dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal akhirat.

Semoga ayat ini menjadi pengingat agar setiap nikmat yang kita rasakan senantiasa diiringi dengan iman, syukur, dan amal saleh.