
Manusia sering kali mengingat Allah ketika berada dalam kondisi sulit. Saat bahaya datang dan harapan seolah tertutup, doa dipanjatkan dengan penuh keikhlasan dan ketundukan. Namun, tidak sedikit yang melupakan Allah ketika keadaan kembali lapang dan aman.
Allah Swt. menggambarkan kondisi tersebut dalam firman-Nya:
فَاِذَا رَكِبُوْا فِى الْفُلْكِ دَعَوُا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ۚ فَلَمَّا نَجّٰىهُمْ اِلَى الْبَرِّ اِذَا هُمْ يُشْرِكُوْنَۙ
Artinya:
“Apabila mereka naik ke dalam bahtera, mereka berdoa kepada Allah dengan penuh pengabdian (ikhlas) kepada-Nya. Namun, ketika Dia menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka kembali mempersekutukan Allah.”
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 65)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa keimanan sejati tidak hanya tampak saat kesulitan, tetapi juga harus terjaga ketika nikmat dan keselamatan telah diraih. Ketulusan beragama diuji bukan hanya oleh penderitaan, melainkan juga oleh kenyamanan dan kelapangan hidup.
Melalui ayat ini, Allah mengajarkan agar manusia senantiasa konsisten dalam tauhid, baik dalam keadaan sempit maupun lapang. Mengingat Allah tidak semestinya bersifat musiman, melainkan menjadi sikap hidup yang terus terjaga.
Semoga renungan singkat ini mengajak kita untuk memperkuat keimanan dan menjaga keikhlasan dalam setiap keadaan.
