Rehat Sejenak: Saat Rezeki Dilapangkan dan Disempitkan

Di tengah ritme hidup yang kian cepat, manusia kerap dihadapkan pada kegelisahan tentang rezeki. Ada masa ketika usaha terasa lancar, pintu-pintu kemudahan terbuka lebar. Namun, ada pula waktu ketika langkah terasa berat dan hasil tak sebanding dengan jerih payah. Pada titik inilah Al-Qur’an mengajak kita untuk berhenti sejenak, merenung, dan menata kembali keyakinan.

Allah Swt. berfirman:

اَللّٰهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ عِبَادِهٖ وَيَقْدِرُ لَهٗ ۗاِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

Allah melapangkan rezeki bagi orang yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki) baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al-‘Ankabūt [29]: 62)

Ayat ini menegaskan bahwa rezeki sepenuhnya berada dalam genggaman Allah Swt. Kelapangan maupun kesempitan bukanlah tanda cinta atau murka semata, melainkan bagian dari sunnatullah dalam mendidik hamba-Nya. Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik bagi setiap insan, bahkan ketika manusia sendiri belum mampu memahaminya.

Kelapangan rezeki adalah amanah yang menuntut rasa syukur dan kepedulian sosial. Sementara itu, kesempitan rezeki adalah ruang pembelajaran untuk bersabar, berikhtiar, dan memperkuat ketawakalan. Keduanya adalah ujian keimanan yang sama-sama bernilai di hadapan Allah Swt.

Maka, rehat sejenaklah. Tarik napas, luruskan niat, dan yakinkan hati bahwa setiap takaran rezeki selalu mengandung hikmah. Tugas manusia adalah terus berusaha secara sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, serta mengiringi ikhtiar dengan doa dan tawakal.

Semoga kita termasuk hamba-hamba yang mampu menerima ketetapan Allah dengan lapang dada, baik saat rezeki diluaskan maupun ketika ia disempitkan, seraya terus menebar manfaat bagi sesama.