
Dalam kehidupan, tidak semua orang yang tampak berada di barisan perjuangan benar-benar memiliki keteguhan iman. Ada yang hadir saat keadaan aman, tetapi menghilang ketika ujian datang. Gambaran ini telah diabadikan Allah Swt. dalam Surah Al-Ahzab ayat 19.
Allah berfirman bahwa ketika bahaya datang, orang-orang munafik dipenuhi ketakutan. Wajah mereka berubah pucat dan pandangan mereka berputar seperti orang yang akan menghadapi kematian. Namun, setelah keadaan kembali aman, mereka justru tampil dengan ucapan yang kasar, tajam, bahkan menyakiti orang-orang beriman. Ironisnya, mereka juga enggan berkorban dan kikir dalam setiap kebaikan.
Ayat ini mengajarkan bahwa kualitas keimanan seseorang tidak diukur dari keberaniannya berbicara ketika keadaan telah aman, melainkan dari keteguhannya dalam menghadapi ujian. Orang beriman tetap istiqamah, baik saat lapang maupun sempit, saat dipuji maupun dicela, serta tidak menjadikan rasa takut sebagai alasan untuk meninggalkan kebenaran.
Sikap kikir terhadap kebaikan yang disebutkan dalam ayat ini juga patut menjadi renungan. Kekikiran bukan hanya soal harta, tetapi juga enggan menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran, bahkan dukungan bagi kemaslahatan umat. Padahal, Islam mengajarkan agar setiap muslim berlomba-lomba dalam amal saleh dan memberi manfaat bagi sesama.
Di era modern, tantangan tersebut tetap relevan. Ketakutan terhadap tekanan sosial, kehilangan jabatan, atau penilaian publik tidak boleh menghalangi seorang muslim untuk menegakkan nilai-nilai kejujuran, keadilan, dan amar makruf nahi mungkar. Sebaliknya, setiap ujian semestinya menjadi momentum untuk membuktikan kualitas iman.
Allah menutup ayat ini dengan peringatan bahwa orang-orang yang tidak benar-benar beriman akan dihapus amal-amalnya. Ini menjadi pengingat bahwa amal yang bernilai di sisi Allah adalah amal yang lahir dari keimanan yang tulus, bukan kepura-puraan atau sekadar pencitraan.
Sebagai warga Muhammadiyah, ayat ini menjadi penguat agar terus menjaga keikhlasan, keberanian dalam kebenaran, dan semangat beramal. Sebab, dakwah tidak hanya membutuhkan lisan yang fasih, tetapi juga hati yang teguh dan kesediaan untuk berkorban di jalan Allah.
اَشِحَّةً عَلَيْكُمْ ۖ فَاِذَا جَاۤءَ الْخَوْفُ رَاَيْتَهُمْ يَنْظُرُوْنَ اِلَيْكَ تَدُوْرُ اَعْيُنُهُمْ كَالَّذِيْ يُغْشٰى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِۚ فَاِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوْكُمْ بِاَلْسِنَةٍ حِدَادٍ اَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِۗ اُولٰۤىِٕكَ لَمْ يُؤْمِنُوْا فَاَحْبَطَ اللّٰهُ اَعْمَالَهُمْۗ وَكَانَ ذٰلِكَ عَلَى اللّٰهِ يَسِيْرًا
“Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapus amalnya. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah.”
(QS. Al-Ahzab [33]: 19)
editor : huda
