
Kendal (11/1/2025) Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat (SEKAM) Angkatan Pertama Regional Semarang yang digelar pada Jumat–Ahad, 9–11 Januari 2026 di Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Patean menjadi ajang strategis penguatan kader dan konsolidasi gerakan pemberdayaan ekonomi umat yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Muhammadiyah Jawa Tengah. Dalam kegiatan ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Salatiga mengirimkan empat kader terbaik Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) untuk mengikuti proses kaderisasi pemberdayaan masyarakat secara intensif. Acara diikuti pula oleh JATAM (Jaringan Tani Muhammadiyah) utusan PDM Regional Semarang seperti Kendal, Batang, Kabupaten dan Kota Semarang, serta Demak.Materi awal SEKAM diisi dengan pemaparan skema KUR Syariah Super Mikro (SUPERMI) dari Bank Jateng Syari’ah yang menyasar calon tani dan jamaah tani JATAM. Program pembiayaan maksimal Rp10 juta tanpa agunan, dengan margin rendah dan akad murabahah bi wakalah ini ditujukan untuk mendorong usaha produktif sektor pertanian dan perkebunan. Skema ini dilaksanakan secara kolektif dengan rekomendasi JATAM serta terintegrasi dengan Duta Laku Pandai sebagai penguatan ekosistem keuangan syariah di tingkat akar rumput.
Hari berikutnya, difokuskan pada penguatan ekosistem pertanian dan industri beras sebagai program utama MPM Jawa Tengah. Peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya pembangunan pertanian dari hulu ke hilir, mulai dari perbenihan, pembiayaan, budidaya, panen presisi, hingga pengolahan dan distribusi hasil. Selain beras, JATAM juga mendorong pengembangan komoditas strategis lain seperti jagung, kopi, pisang cavendish, dan peternakan berbasis jejaring usaha bersama. Materi akhir, menitikberatkan pada penguatan wawasan kewirausahaan, jejaring pasar, serta orientasi pemberdayaan berkelanjutan. Pak Imam dari Asosiasi Kopi Indonesia memaparkan potensi besar kopi Jawa Tengah, khususnya Arabika Sindoro–Sumbing dan Robusta Temanggung, sekaligus menekankan pentingnya inovasi kualitas, pembenihan unggul, serta ketahanan petani menghadapi perubahan iklim. Ia juga menegaskan bahwa jamaah Muhammadiyah harus hadir tidak hanya dalam aspek ibadah, tetapi juga dalam praktik pemberdayaan ekonomi yang nyata.

Sementara itu, Bastian Turidobroto, S.T., M.M., pengusaha kopi ekspor, membagikan pengalaman tentang pengembangan produk berbasis komoditas, pentingnya menjaga kualitas dan kapasitas produksi, serta membangun mindset bisnis berskala nasional. Ia mendorong peserta untuk berani mengembangkan nilai tambah produk, memperluas jejaring pasar, dan memanfaatkan potensi besar sumber daya Muhammadiyah dalam membangun usaha yang berdaya saing.
Ketua MPM Jateng, Ir. Fatchur Rochman, menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat merupakan bagian dari dakwah muamalah yang berprinsip adil dan saling menguntungkan. Rochman mengamanatkan kepada para peserta SEKAM yang sudah secara langsung menjadi JATAM di PDM masing-masing untuk melakukan kegiatan real diwujudkan dalam action. Ketua JATAM, Hery Sugiartono, menambahkan bahwa kader pemberdayaan harus memiliki jiwa kewirausahaan dengan semangat Wareg, Weanak, Waras (3W) serta mampu menggerakkan kerja kolektif dari hulu hingga hilir.
Melalui keikutsertaan empat kader terbaik AMM dalam SEKAM Regional Semarang ini dengan mengutus Fahmi Febrianto dan Naufal Yumana sebagai perwakilan dari PDPM serta dari IMM mengamanatkan kepada Haikal Al Fiqri dan Naufal Mumtaz. PDM Salatiga diharapkan mampu menindaklanjuti seluruh materi yang diperoleh dengan aksi nyata pemberdayaan masyarakat di daerah, khususnya dalam penguatan JATAM dan kemandirian ekonomi umat.

